Senin, 14 Maret 2016
Minggu, 13 Maret 2016
KONSEP SEHAT
Menurut WHO
(1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna
baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau
kelemahan (WHO, 1947). Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik
berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle.
1994) :
1. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang
menyeluruh.
2. Memandang
sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal.
3. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu
dalam hidup.
SEHAT MENURUT DEPKES RI
Konsep sehat dan sakit sesungguhnya tidak terlalu mutlak dan
universal karena ada faktor -faktor lain di luar kenyataan klinis yang
mempengaruhinya terutama faktor sosial budaya. Kedua pengertian saling
mempengaruhi dan pengertian yang satu hanya dapat dipahami dalam konteks
pengertian yang lain. Banyak ahli filsafat, biologi, antropologi, sosiologi,
kedokteran, dan lain-lain bidang ilmu pengetahuan telah mencoba memberikan
pengertian tentang konsep sehat dan sakit ditinjau dari masing-masing disiplin
ilmu. Masalah sehat dan sakit merupakan proses yang berkaitan dengan kemampuan
atau ketidakmampuan manusia beradap -tasi dengan lingkungan baik secara
biologis, psikologis maupun sosio budaya.
UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa : Kesehatan
adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup
produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus
dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur –unsur fisik, mental
dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
Definisi sakit: seseorang dikatakan sakit apabila ia menderita penyakit menahun
(kronis), atau gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas
kerja/kegiatannya terganggu. Walaupun seseorang sakit (istilah sehari -hari)
seperti masuk angin, pilek, tetapi bila ia tidak terganggu untuk melaksanakan
kegiatannya, maka ia di anggap tidak sakit.
Pengertian Konsep Sehat.
Sejak dahulu sekitar abad 1
bahwa konsep sehat sakit telah dipergunakan walaupun pengertian masih sangat
terbatas. Pada saat ini sehat banyak diartikan dalam kadar yang normal atau
lazim yang terjadi pada individu dalam arti bahwa individu tersebut tidak merasakan
keluhan sebaliknya sakit diartikan suatu keadaan yang tidak normal atau lazim
pada diri seseorang, misalnya adanya keluhan pusing yang tidak tertahankan,
panas, dan sebagainya, sehingga pada saat itu dapat disimpulkan bahwa sehat itu
bukan dari suatu penyakit.
1. Sehat
menurut WHO.
Sehat:
sesuatu keadaan yang sejahtera menyeluruh baik fisik,
mental, dan social dan tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
2.
Sakit adalah suatu kondisi dimana
kesehatan tubuh lemah.
3.
Sakit adalah keadaan yang
disebabkan oleh bermacam-macam hal, bisa suatu kejadian, kelainan yang dapat
menimbulkan gangguan terhadap susunan jaringan tubuh, dari fungsi jaringan itu
sendiri maupun fungsi keseluruhan.
Konsep Sehat
A. Pengertian
1.
Sehat menurut WHO 1974
Kesehatan adalah
keadaan sempurna baik fisik, mental, social bukan hanya bebas dari penyakit,
cacat dan kelemahan.
2.
UU N0. 23/1992 tentang kesehatan
Kesehatan adalah
suatu keadaan sejahtera dari badan (jasmani), jiwa (rohani) dan social yang memungkinkan
setiap orang hidup produktif secara social dan ekonomis.
3.
Pepkin’s
Sehat adalah suatu
keadaan keseimbangan yang dinamis antara bentuk tubuh danfungsi yang dapat
mengadakan penyesuaian, sehingga dapat mengatasi gangguan dari luar.
4.
Kesehatan mental menurut UU No.3/1961
Adalah suatu kondisi
yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, emosional yang optimal dari
seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.
5.
Kesehatan Social
Adalah suatu
kemampuan untuk hidup bersama dengan masyarakat di lingkungannya.
6.
Kesehatan Fisik
Adalah suatu keadaan
dimana bentuk fisik dan fungsinya tidak ada ganguan sehingga memungkinkan
perkembangan psikologis, dan social serta dapat melaksanakan kegiatan sehari-hari
dengan optimal.
Sesuai
dengan pengertian sehat di atas dapat di simpulkan bahwa kesehatan terdiri dari
3 dimensi yaitu fisik, psikis dan social yang dapat diartikan secara lebih
positif, dengan kata lain bahwa seseorang diberi kesempatan untuk mengembangkan
seluas-luasnya kemampuan yang dibawanya sejak lahir untuk mendapatkan atau
mengartikan sehat.
Meskipun terdapat
banyak pengertian/definisi, konsep sehat adalah tidak standart atau baku serta
tidak dapat diterima secara mutlak dan umum. Apa yang dianggap normal oleh
seseorang masih mungkin dinilai abnormal oleh orang lain, masing-masing
orang/kelompok/masyarakat memiliki patokan tersendiri dalam mengartikan sehat.
Banyak orang hidup sehat walau status ekonominya kekurangan, tinggal ditempat
yang kumuh dan bising, mereka tidak mengeluh adanya gangguan walau setelah
ditimbang berat badanya dibawah normal. Penjelasan ini menunjukan bahwa konsep
sehat bersifat relatif yang bervariasi sangat luas antara sesama orang walau
dalam satu ruang/wilayah.
Sehat
tidak dapat diartikan sesuatu yang statis, menetap pada kondisi tertentu,
tetapi sehat harus dipandang sesuatu fenomena yang dinamis. Kesehatan sebagai
suatu spectrum merupakan suatu kondisi yang fleksibel antara badan dan mental
yang dibedakan dalam rentang yang selalu berfluktuasi atau berayun mendekati
dan menjauhi puncak kebahagiaan hidup dari keadaan sehat yang sempurna.
Sehat sebagai suatu
spectrum, Pepkins mendefinisikan sehat sebagai keadaan keseimbangan yang
dinamis dari badan dan fungsi-fungsinya sebagai hasil penyesuaian yang dinamis
terhadap kekuatan-kekuatan yang cenderung menggangunya. Badan seseorang bekerja
secara aktif untuk mempertahankan diri agar tetap sehat sehingga kesehatan
selalu harus dipertahankan. Berikut adalah tahap-tahap spectrum kesehatan :
·
Positive Health
·
Better Health
·
Freedom from Sickness
·
Spektrum
·
Kesehatan
·
Unrecognized Sickness
·
Mild Sickness
·
Severe Sickness
·
Death
Konsep Sakit
A. Pengertian
1.
Perkins mendefinisikan sakit sebagai suatu keadaan yang tidak
menyenangkan yang menimpa seseorang sehingga seseorang menimbulkan gangguan
aktivtas sehari-hari baik aktivitas jasmani, rohani dan sosial.
2.
R. Susan mendefinisikan sakit adalah tidak adanya keserasian antara
lingkungan dan individu.
3.
Oxford English Dictionary mengartikan sakit sebagai suatu keadaan
dari badan atau sebagian dari organ badan dimana fungsinya terganggu atau
menyimpang.
Keadaan Sehat – Sakit
A. Kontinum Sehat – Sakit
Status
kesehatan seseorang terletak antara dua kutub yaitu “ sehat optimal dan “
kematian “, yang sifatnya dinamis. Bila kesehatan seseorang bergerak kekutub
kematian maka seseorang berada pada area sakit (illness area) dan bila status
kesehatan bergerak kearah sehat (optimal well being) maka seseorang dalam area
sehat (wellness area).
B. Mempertahankan Status Kesehatan
1.
Sesuai dengan sifat sehat-sakit yang dinamis, maka keadaan seseorang
dapat dibagi menjadi sehat optimal, sedikit sehat, sedikit sakit, sakit berat
dan meninggal.
2.
Bila seseorang dalam area sehat maka perlu diupayakan pencegahan
primer (primary prevention) yang meliputi health promotion dan spesific
protection guna mencegah terjadinya sakit.
3.
Bila seseorang dalam area sakit perlu diupayakan pencegahan sekunder
dan tersier yaitu earlydiagnosisand promt treatment, disability limitation dan rehabilitation.
C. Factor Yang Berpengaruh Terhadap Perunbahan Sehat Sakit
Blum,
mengemukakan terdapat 6 faktor yang mempengaruhi status sehat-sakit, yaitu :
1.
Faktor politik meliputi keamanan, tekanan, tindasan
dll.
2.
Faktor perilaku manusia meliputi kebutuhan manusia,
kebiasaan manusia, adat istiadat.
3.
Faktor keturunan meliputi genetic, kecacatan, etnis,
fator resiko, ras dll.
4.
Factor pelayanan kesehatan meliputi upaya promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif.
5.
Faktor lingkungan meliputi udara, air, sungai dll.
6.
Factor social ekonomi meliputi pendidikan, pekerjaan dll.
D. Tingkat Pencegahan
Dalam perkembangan
selanjutnya untuk mengatasi masalah kesehatan termasuk penyakit di kenal tiga
tahap pencegahan:
·
Pencegahan primer: promosi kesehatan (health promotion) dan
perlindungan khusus (specific protection).
·
Pencegahan sekunder: diagnosis dini dan pengobatan segera (early
diagnosis and prompt treatment), pembatasan cacat (disability limitation)
·
Pencegahan tersier: rehabilitasi.
1. Pencegahan
primer dilakukan pada masa individu belum menderita sakit, upaya yang dilakukan
ialah:
a. Promosi
kesehatan/health promotion yang ditujukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap
masalah kesehatan.
b. Perlindungan
khusus (specific protection): upaya spesifik untuk mencegah terjadinya
penularan penyakit tertentu, misalnya melakukan imunisasi, peningkatan
ketrampilan remaja untuk mencegah ajakan menggunakan narkotik dan untuk menanggulangi
stress dan lain-lain.
2.
Pencegahan sekunder dilakukan pada masa individu mulai sakit
a.
Diagnosa dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt
treatment), tujuan utama dari tindakan ini ialah 1) mencegah penyebaran
penyakit bila penyakit ini merupakan penyakit menular, dan 2) untuk mengobati
dan menghentikan proses penyakit, menyembuhkan orang sakit dan mencegah
terjadinya komplikasi dan cacat.
b. Pembatasan cacat
(disability limitation) pada tahap ini cacat yang terjadi diatasi, terutama
untuk mencegah penyakit menjadi berkelanjutan hingga mengakibatkan terjadinya
cacat yang lebih buruk lagi.
3. Pencegahan
tersier
a. Rehabilitasi,
pada proses ini diusahakan agar cacat yang di derita tidak menjadi hambatan
sehingga individu yang menderita dapat berfungsi optimal secara fisik, mental
dan sosial. Adapun skema dari ketiga upaya pencegahan itu dapat di lihat pada
gambar dua. Pada gambar dua proses perjalanan penyakit dibedakan atas a) fase
sebelum orang sakit: yang ditandai dengan adanya keseimbangan antara agen
(kuman penyakit, bahan berbahaya), host/tubuh orang dan lingkungan dan b) fase
orang mulai sakit: yang akhirnya sembuh atau mati.
Promosi kesehatan
dilakukan melalui intervensi pada host/tubuh orang misalnya makan makanan
bergizi seimbang, berperilaku sehat, meningkatkan kualitas lingkungan untuk
mencegah terjadinya penyakit misalnya menghilangkan tempat berkembang biaknya
kuman penyakit, mengurangi dan mencegah polusi udara, menghilangkan tempat
berkembang biaknya vektor penyakit misalnya genangan air yang menjadi tempat
berkembang biaknya nyamuk Aedes, atau terhadap agent penyakit seperti misalnya
dengan memberikan antibiotika untuk membunuh kuman.
Perlindungan
khusus dilakukan melalui tindakan tertentu misalnya imunisasi atau proteksi
pada bahan industri berbahaya dan bising . Melakukan kegiatan kumur-kumur
dengan larutan flour untuk mencegah terjadinya karies pada gigi. Sedangkan
terhadap kuman penyakit misalnya mencuci tangan dengan larutan antiseptik
sebelum operasi untuk mencegah infeksi, mencuci tangan dengan sabun sebelum
makan untuk mencegah penyakit diare.
Diagnosa dini
dilakukan melalui proses skrining seperti misalnya skrining kanker payudara,
kanker rahim, adanya penyakit-penyakit tertentu pada masa kehamilan, sehingga
pengobatan dapat dilakukan saat dini dan akibat buruknya dapat dicegah.
Kadang-kadang
batas dari ketiga tahap pencegahan itu tidak jelas sehingga ada kegiatan yang
tumpang tindih dapat digolongkan pada perlindungan khusus akan tetapi juga
dapat digolongkan pada diagnosa dini dan pengobatan segera misalnya pengobatan
lesi prekanker pada rahim dapat termasuk pengobatan dini dapat juga
perlindungan khusus.
Selain upaya
pencegahan primer, sekunder dan tersier yang dikalangan kesehatan dokter,
perawat dan praktisi kesehatan masyarakat dikenal sebagai lima tingkat
pencegahan, juga dikenal empat tahapan kegiatan untuk mengatasi masalah
kesehatan masyarakat, empat tahapan itu (Rossenberg, Mercy and Annest, 1998)
ialah:
Apa masalahnya (surveillance). Identifikasi
masalah, apa masalahnya, kapan terjadinya, dimana, siapa penderitanya,
bagaimana terjadinya, kapan hal itu terjadi apakah ada kaitannya dengan musim
atau periode tertentu.
Mengapa hal itu terjadi (Identifikasi faktor resiko). Mengapa
hal itu lebih mudah terjadi pada orang tertentu, faktor apa yang meningkatkan
kejadian (faktor resiko) dan faktor apa yang menurunkan kejadian (faktor
protektif).
Apa yang berhasil dilakukan (evaluasi intervensi). Atas
dasar kedua langkah terdahulu, dapat di rancang upaya yang perlu dilakukan
untuk mencegah terjadinya masalah, menanggulangi dengan segera penderita dan
melakukan upaya penyembuhan dan pendampingan untuk menolong korban dan menilai
keberhasilan tindakan itu dalam mencegah dan menanggulangi masalah.
Setelah
diketahui intervensi yang efektif, tindakan selanjutnya Bagaimana melaksanakan intervensi itu di
pelbagai tempat dan setting dan mengembangkan sumber daya untuk
melaksanakannya.
Sumber:
Rossenberg,
Mercy and Annest, 1998
http://dianhusadautamiblogspotcom.blogspot.co.id/p/konsep-sehat-sakit.html
Jumat, 22 Januari 2016
DISINHIBITION DAN INTERNET
CHAPTER
4
Oleh : Shafa Aisya (1A514182)
2Pa09
DISINHIBITION DAN INTERNET
Lebih dari 10
tahun penelitian psikologi dalam bidang internet, membahas tentang pengakuan
umum masyarakat yang berbeda-beda saat sedang berinternet dan saat tidak
berinternet (e.g., Joinson, 2003; Suler, 2004). Sebagai contoh, mereka memiliki
kekuatan saat melakukan hal memalukan di internet, saat yang menyiksa dan
memalukan adalah saat sedang tidak berinternet. Mereka dapat bergosip dan
membalas email orang lain saat berinternet, saat seperti itu mereka dapat
bertingkah dengan leluasa. Atau, mereka mencari informasi melalui internet (seperti
kesehatan atau pornografi) itu yang tidak dapat mereka lakukan saat sedang
tidak berinternet. Ini hal yang umum tentang perselisihan yang diistilahkan
dengan “Disinhibition (ketidak
mampuan menahan impuls yang dibendung)” (Joinson, 1998) atau biasa disebut “Online
Disinhibition Effect”” (Suler, 2004).
Pada bab ini fokus terhadap bukti tentang Disinhibition saat berinternet
terdapat dua bidang: komunikasi (untuk pengungkapan diri dan menyala)
dan melihat informasi (untuk melihat pornografi).
BUKTI DISINHIBITION
PENGUNGKAPAN DIRI DAN INTERNET
Banyak yang menjadi contoh eksperimen dan bukti anecdotal menyarankan
pada Computer Mediated Communication
(CMC) dan umumnya internet berdasarkan pada tingkah laku bisa jadi mengandung
level tertinggi pengungkapan diri. McKenna and Bargh menemunkan pengungkapan
diri dalam internet memiliki akibat yang besar pada kehidupan nyata: Akibat
langsung dari internet anggota newgroup dan partisipasi, lebih dari 37%
partisipan dalam study 2, dan 63%
dalam study 3 mengungkapkan rahasia
yang memalukan tentang mereka (p. 691).
Dalam seri belajar dilaporkan oleh
Joinson (2001), level pengungkapan diri diukur berdasarkan kadar
analisis dari salinan face-to-face
(FtF) dan sinkronis CMC diskusi (study
one), dan dalam kondisi pengelihatan anonim dan video links selama CMC (study two). Kedua study ini bersama
menyediakan visually anonimous secara
empiris CMC cenderung memimpin ke level tertinggi pengungkapan diri. (e.g., through the use of a video link or
accountability cues ( Joinson, 2001, study 3), as well as encouraged.
GEJOLAK DAN PERILAKU ANTISOSIAL
Dalam format asli, “gejolak” mengarah kepada tak henti-hentinya berbicara
atau obrolan sia-sia. Entah bagaimana, pada umumnya itu datang terlihat sebagai
negatif atau tingkah laku antisosial dalam berinternet di komputer. Saat
seperti antagonis atau agresif chat diperlihatkan antar masyarakat, itu akan
menyebabkan “perang api.” Sarjana meneliti terjadinya gejolak yang menghambat
ketidak jelasan dari definisi untuk mengukur dalam penelitian laboratory.
contohnya, Kiesler et al. (1985) Gejolak diopersionalkan sebagai:
·
Laporan impilited
·
Sumpah / menggoda
·
Seruan
·
ekspresi perasaan seseorang terhadap orang lain
·
penggunaan superlatif
Orang mengoperasikan gejolak dan memasukkannya dalam kategori kata-kata
tidak senonoh, “typo- graphic energy” (e.g., exclamation marks), disebut juga,
sumpah, dan pengaruh umum negatif. Saat fokus terhadap projek penelitian berasal dari gejolak dari “tak
menghalangi” komunikasi (Lea et al., 1992). Dari banyak contoh, gejolak , dari
definisi , sesuatu antara hanya terjadi didalam internet komputer, keunikan
dari internet komputer,atau lebih jelas pada internet komputer dari pada tatap
muka.
BUKTI EMPIRIS DALAM GEJOLAK
Dalam tiga study awal diuraikan dalam Kiesler et al. (1984) dalam tingkat
tak terbatas tingkah laku berbicara dimana membandungkan empat kondisi:
komunikasi tatap muka, pertemuan tanpa nama komputer (satu kebanyak orang),
pertemuan non-anonymous komputer (satu kebanyak orang),dan e-mail.
DISINHIBITION DAN WORLD WIDE WEB (WWW)
Diseluruh diskusi ini, berfokus kepada komunikasi. Entah bagaimana, ada
juga bukti yang cukup dalam tingkah laku
di World Wide Web, Sementara tidak diperlukan "menyimpang," dapat
dilihat sebagai tak terbatas. Studi psikologis WWW cenderung untuk fokus pada
tiga bidang utama: penggunaan WWW untuk melakukan penelitian psikologis
(misalnya, Birnbaum, 2004); interaksi yang dengan antarmuka WWW dan kegunaan;
dan proses psikologis yang terlibat dalam perilaku WWW.
INTERNET PORNOGRAPHY
Salah satu bidang perilaku WWW yang telah menerima beberapa penelitian
perhatian adalah mengakses materi pornografi. Pornografi jauh lebih mudah
diakses di Internet daripada di atas kertas. Peningkatan aksesibilitas tidak
hanya mengelakan hukum diadakan secara lokal pada penecabulan (efektif
mengurangi apa yang diterima thelowest
denominator umum karena di situlah situs Web akan diselenggarakan), tetapi
juga menghilangkan banyak hambatan psikologis yang terkait dengan, katakanlah,
membeli pornografi di toko lokal seseorang. Namun, isi dan kuantitas pornografi
di Internet telah berada di bawah dan diteliti oleh cyberpsychologists.
FORMAT DARI PORNOGRAFI DI INTERNET
Studi Rimm dari gambar-gambar porno berusaha untuk menganalisis mereka
untuk isi yang dengan secara otomatis mengumpulkan deskripsi dari gambar.
Sebagai deskripsi gambar mungkin akan lebih terkait dengan iklan dari konten
terntentu yang sebenarnya, ada kemungkinan bahwa metode ini di diciptakan
tingkat kecabulan.
Untuk mengatasi cabul, Mehta dan Plaza (1997) menganalisis 150 gambar
seksual yang diambil dari 17 newsgroup pada hari pada tahun 1994. Sebagian
besar gambar yang diposting oleh anonim pengguna Usenet nonkomersial (65%).
Tema utama yang muncul dari analisis yang muncul alat kelamin manusia (43%),
tegak penis (35%), fetishes (33%), dan masturbasi (21%). Jumlah bahan paling
mungkin dianggap ilegal di sebagian besar negara juga tinggi: 15% dari gambar
baik yang terkandung anak-anak atau remaja atau pemuda dalam gambar atau teks.
Paraphelias lainnya yang tercatat, termasuk perbudakan dan disiplin (10%),
penyisipan benda asing (17%), bestiality (10%), incest (1%), dan buang air
kecil (3%). Mehta dan Plaza dicatat bahwa distribusi jenis gambar mirip dengan
yang ditemukan oleh Rimm dalam studinya tentang papan buletin.
Mehta dan Plaza juga mencatat bahwa isi dari pornografi internet
tampaknya berbeda dari yang majalah dan video. Misalnya, fellatio,
homoseksualitas, dan kelompok seks yang lebih sering ditemukan di situs
internet (15, 18, dan 11%, masing-masing) dibandingkan dalam studi yang
sebanding media tradisional (8.1, 2-4, dan 1-3%, masing-masing) . Dibandingkan
dengan anonim, pengguna non-komersial, pengguna komersial (yaitu, mereka secara
efektif posting iklan) yang secara berarti lebih mungkin untuk memasukkan
materi eksplisit (penggunaan benda asing, fellatio, dan anak-anak / remaja).
PENJELASAN DARI DISINHIBITON DI
INTERNET
Konsep deindividuation dapat ditelusuri ke peneliti Perancis Gustave Le
Bon pada tahun 1895. Le Bon berpendapat bahwa menjadi anggota dari kerumunan
menyebabkan penggenangan, sebuah negara di mana kendala normal pada perilaku
individu dihapus. Dalam psikologi sosial modern eksperimental, asi deindividu-
Istilah ini diciptakan oleh Festinger dkk. (1952) untuk menjelaskan mengapa
laki-laki yang mengingat kode informasi yang kurang individuating menampilkan
lebih banyak permusuhan terhadap orang tua mereka.
Teori menjadi sasaran serangkaian formulasi ulang, berbagai
memperhitungkan peran berkurang fokus internal (Diener, 1980) dan mengurangi
kesadaran komponen masyarakat dari perilaku sendiri (Prentice-Dunn &
Rogers, 1982). Prentice-Dunn dan Rogers menunjukkan bahwa deindividuation
disebabkan oleh dua faktor-faktor: pengurangan isyarat akuntabilitas (misalnya,
anonimitas atau keanggotaan kelompok menyebabkan berkurangnya kekhawatiran
tentang reaksi orang lain) dan mengurangi kesadaran diri (dan karena itu
menurun self-regulation dan penggunaan standar internal). Menurut beberapa
peneliti CMC, orang berkomunikasi melalui komputer mungkin deindividuated
MENGURANGI ISYARAT SOSIAL
Penjelasan terkait perilaku online disinhibited berasal dari bandwidth
yang terbatas jaringan CMC, dan pengurangan berikutnya dituduhkan dalam
isyarat-isyarat sosial selama interaksi. Ini, menurut mengurangi pendekatan
isyarat-isyarat sosial, mengarah ke penurunan pengaruh dari norma-norma sosial
dan kendala (Kiesler et al, 1984;.) Dan dengan demikian menyebabkan
antinormative dan deregulasi prilaku.
Namun, pendekatan RSC telah sangat dikritik karena mengambil
"socialness" dari CMC (lihat Spears & Lea, 1992). Menurut model
RSC, sosial pengaruh di CMC akan terutama didasarkan pada keseimbangan
informasi yang dipertukarkan (Kiesler et al., 1984). Namun, Spears dan Lea
(1992) meringkas penelitian polarisasi kelompok yang menunjukkan bahwa CMC,
dalam keadaan tertentu, mematuhi normatif pengaruh daripada pinjaman itu
sendiri untuk perilaku antinormative. Namun, pengembangan hubungan online, di
samping pembangunan isyarat interpersonal yang sosial (misalnya, smilies,
tanda-tanda tindakan) dan isyarat kategori yang terkandung dalam e-mail header
dan tanda tangan (misalnya, jenis kelamin, lokasi, pekerjaan), menunjukkan
bahwa CMC tidak kekurangan "socialness" (slaSpears & Lea, 1992).
DUA-KOMPONEN DIRI-KESADARAN MODEL
Ini juga telah berpendapat bahwa disinhibition
sering terlihat dalam studi CMC mungkin karena lebih tinggi daripada rendah
diri fokus (Joinson, 2001; Matheson & Zanna, 1988). Menurut Duval dan
Wicklund (1972), perhatian sadar dapat diarahkan pada lingkungan (disebut
"publik" kesadaran diri) atau ke arah diri (disebut
"swasta" kesadaran diri). Kesadaran diri publik disebabkan oleh
situasi di mana seorang individu menyadari kemungkinan sedang dievaluasi
(misalnya, ketika sedang direkam atau dinilai) atau ketika mereka khas sosial
(misalnya, ketika mereka adalah minoritas di kelompok). Kesadaran diri pribadi
adalah ketika orang menyadari motif batin mereka, sikap, tujuan, dan
sebagainya, dan dapat diinduksi, misalnya, dengan memiliki orang-orang melihat
ke dalam cermin. Menjadi pribadi sadar diri harus mengarah prilaku, IOR sedang
mengatur oleh tujuan individu, kebutuhan, dan standar (Carver & Scheier,
1981). Menurut Matheson dan Zanna, kesadaran diri pribadi dan umum dianggap
"relatif ortogonal" (hal. 222), yaitu, seseorang dapat menyadari
"baik, satu atau tidak aspek diri" (hal. 222) .
Karya kedua Joinson dan Sassenberg dkk. menunjukkan bahwa perilaku online
dapat dipahami dalam arti interpersonal. Artinya, fokus kami pada diri kita
sendiri tive untuk orang lain menjelaskan (beberapa) aspek perilaku online.
Namun, dalam model berikutnya (SIDE), pendekatan kesadaran diri menunjukkan
bahwa perilaku online diatur-baik oleh sikap kita sendiri dan keyakinan
(melalui peningkatan kesadaran diri pribadi) atau keanggotaan kelompok kami dan
sikap terkait (melalui identitas sosial yang menonjol).
SOSIAL IDENTITAS PENJELASAN EFEK DEINDIVIDUATION
(SIDE)
Penjelasan lebih lanjut dari perilaku CMC berasal dari model SIDE
(Reicher et al., 1995). Menurut model ini, kebanyakan efek deindividuation, dari yang dilaporkan oleh Zimbardo (1969) dan
seterusnya, dapat dijelaskan tanpa bantuan
deindividuation. Anonimitas, karena kurangnya fokus pada diri sebagai
individu, cenderung mengarah pada aktivasi identitas sosial daripada aktivasi
identitas pribadi (Reicher et al., 1995). Hal ini menyebabkan pengaturan
perilaku berdasarkan norma-norma yang terkait dengan kelompok sosial yang
menonjol.
PENJELASAN MULTI-FAKTOR DAN DISINHIBITION
Suler (2004) mengidentifikasi enam faktor utama yang menyebabkan
"efek disinhibition online,"
beberapa sebelumnya mapan, yang lain berdasarkan teori psikoanalitik. Ini
adalah anonimitas disosiatif, tembus pandang, asynchronicity, introyeksi
solipsistik, dan minimalisasi otoritas. Suler berpendapat bahwa anonimitas
online memungkinkan orang untuk kotakkan diri online mereka dan merasionalisasi
bahwa perilaku online mereka 'tidak benar-benar sama sekali "(hal. 322).
PENDEKATAN PRIVASI BERBASIS UNTUK MEMAHAMI DISINHIBITION
Joinson dan Paine (di media) berpendapat bahwa peningkatan pengawasan
kegiatan Internet membuat penjelasan hanya berdasarkan anonimitas unviable.
Misalnya, kita dapat mengontrol informasi apa yang kita pilih untuk
mengungkapkan, dengan cara apa, dan bagaimana kita mengungkapkannya. Dengan
menghapus kontrol dari CMC (misalnya, dengan memperkenalkan video atau
sinkronisitas), kami juga menghapus kontrol, dan dengan demikian kompromi
privasi. Jelas maka, menurut pendekatan ini, kita perlu untuk sepenuhnya
menghargai tidak hanya aspek media yang memungkinkan perilaku disinhibited, tetapi juga motivasi dan
proses psikologis dari pengguna individu dan konteks sosial tertentu mereka.
KESIMPULAN
Disinhibisi adalah salah satu dari beberapa dilaporkan secara
luas dan mencatat Media efek dari interaksi online. Namun, meskipun bukti bahwa
disinhibition terjadi di sejumlah
konteks yang berbeda secara online, termasuk CMC, Web-log dan penyerahan
formulir Web, yang paling pendekatan untuk memahami fenomena co fine diri
mereka untuk mempertimbangkan dampak dari faktor-anonimitas tunggal. Saya
berpendapat bahwa dengan berfokus hanya pada efek tingkat mikro media ini,
konteks yang lebih luas di mana perilaku tersebut dilakukan diabaikan-dan yang
mengabaikan ini batas konteks bagaimana kita dapat konsep perilaku online.
Dengan mempertimbangkan konteks yang lebih luas, dan dalam TERTENTU,
implikasinya untuk privasi, adalah mungkin untuk mengembangkan gambaran yang
lebih bernuansa mengenai perilaku disinhibition
berinternet.
Langganan:
Postingan (Atom)




