Winnie The Pooh

Senin, 14 Maret 2016

"Mind Map" Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental



Untuk yang lebih jelas :




Minggu, 13 Maret 2016

KONSEP SEHAT



Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947). Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle. 1994) :
1. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.
2.  Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal.
3. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.

SEHAT MENURUT DEPKES RI
Konsep sehat dan sakit sesungguhnya tidak terlalu mutlak dan universal karena ada faktor -faktor lain di luar kenyataan klinis yang mempengaruhinya terutama faktor sosial budaya. Kedua pengertian saling mempengaruhi dan pengertian yang satu hanya dapat dipahami dalam konteks pengertian yang lain. Banyak ahli filsafat, biologi, antropologi, sosiologi, kedokteran, dan lain-lain bidang ilmu pengetahuan telah mencoba memberikan pengertian tentang konsep sehat dan sakit ditinjau dari masing-masing disiplin ilmu. Masalah sehat dan sakit merupakan proses yang berkaitan dengan kemampuan atau ketidakmampuan manusia beradap -tasi dengan lingkungan baik secara biologis, psikologis maupun sosio budaya.
UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa : Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur –unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan. Definisi sakit: seseorang dikatakan sakit apabila ia menderita penyakit menahun (kronis), atau gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas kerja/kegiatannya terganggu. Walaupun seseorang sakit (istilah sehari -hari) seperti masuk angin, pilek, tetapi bila ia tidak terganggu untuk melaksanakan kegiatannya, maka ia di anggap tidak sakit.

Pengertian Konsep Sehat.
     Sejak dahulu sekitar abad 1 bahwa konsep sehat sakit telah dipergunakan walaupun pengertian masih sangat terbatas. Pada saat ini sehat banyak diartikan dalam kadar yang normal atau lazim yang terjadi pada individu dalam arti bahwa individu tersebut tidak merasakan keluhan sebaliknya sakit diartikan suatu keadaan yang tidak normal atau lazim pada diri seseorang, misalnya adanya keluhan pusing yang tidak tertahankan, panas, dan sebagainya, sehingga pada saat itu dapat disimpulkan bahwa sehat itu bukan dari suatu penyakit.
1.  Sehat menurut WHO.
Sehat:  sesuatu keadaan yang sejahtera menyeluruh baik fisik, mental, dan social dan tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
2.    Sakit adalah suatu kondisi dimana kesehatan tubuh lemah.
3.    Sakit adalah keadaan yang disebabkan oleh bermacam-macam hal, bisa suatu kejadian, kelainan yang dapat menimbulkan gangguan terhadap susunan jaringan tubuh, dari fungsi jaringan itu sendiri maupun fungsi keseluruhan.

Konsep Sehat
A. Pengertian
1.     Sehat menurut WHO 1974
Kesehatan adalah keadaan sempurna baik fisik, mental, social bukan hanya bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan.
2.    UU N0. 23/1992 tentang kesehatan
Kesehatan adalah suatu keadaan sejahtera dari badan (jasmani), jiwa (rohani) dan social yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara social dan  ekonomis.
3.    Pepkin’s
Sehat adalah suatu keadaan keseimbangan yang dinamis antara bentuk tubuh danfungsi yang dapat mengadakan penyesuaian, sehingga dapat mengatasi gangguan dari luar.
4.    Kesehatan mental menurut UU No.3/1961
Adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.
5.    Kesehatan Social
Adalah suatu kemampuan untuk hidup bersama dengan masyarakat di lingkungannya.
6.    Kesehatan Fisik
Adalah suatu keadaan dimana bentuk fisik dan fungsinya tidak ada ganguan sehingga memungkinkan perkembangan psikologis, dan social serta dapat melaksanakan kegiatan sehari-hari dengan optimal.

Sesuai dengan pengertian sehat di atas dapat di simpulkan bahwa kesehatan terdiri dari 3 dimensi yaitu fisik, psikis dan social yang dapat diartikan secara lebih positif, dengan kata lain bahwa seseorang diberi kesempatan untuk mengembangkan seluas-luasnya kemampuan yang dibawanya sejak lahir untuk mendapatkan atau mengartikan sehat.
Meskipun terdapat banyak pengertian/definisi, konsep sehat adalah tidak standart atau baku serta tidak dapat diterima secara mutlak dan umum. Apa yang dianggap normal oleh seseorang masih mungkin dinilai abnormal oleh orang lain, masing-masing orang/kelompok/masyarakat memiliki patokan tersendiri dalam mengartikan sehat. Banyak orang hidup sehat walau status ekonominya kekurangan, tinggal ditempat yang kumuh dan bising, mereka tidak mengeluh adanya gangguan walau setelah ditimbang berat badanya dibawah normal. Penjelasan ini menunjukan bahwa konsep sehat bersifat relatif yang bervariasi sangat luas antara sesama orang walau dalam satu ruang/wilayah.
Sehat tidak dapat diartikan sesuatu yang statis, menetap pada kondisi tertentu, tetapi sehat harus dipandang sesuatu fenomena yang dinamis. Kesehatan sebagai suatu spectrum merupakan suatu kondisi yang fleksibel antara badan dan mental yang dibedakan dalam rentang yang selalu berfluktuasi atau berayun mendekati dan menjauhi puncak kebahagiaan hidup dari keadaan sehat yang sempurna.
Sehat sebagai suatu spectrum, Pepkins mendefinisikan sehat sebagai keadaan keseimbangan yang dinamis dari badan dan fungsi-fungsinya sebagai hasil penyesuaian yang dinamis terhadap kekuatan-kekuatan yang cenderung menggangunya. Badan seseorang bekerja secara aktif untuk mempertahankan diri agar tetap sehat sehingga kesehatan selalu harus dipertahankan. Berikut adalah tahap-tahap spectrum kesehatan :
·         Positive Health
·         Better Health
·         Freedom from Sickness
·         Spektrum
·         Kesehatan
·         Unrecognized Sickness
·         Mild Sickness
·         Severe Sickness
·         Death
                                              
Konsep Sakit
A. Pengertian
1.     Perkins mendefinisikan sakit sebagai suatu keadaan yang tidak menyenangkan yang menimpa seseorang sehingga seseorang menimbulkan gangguan aktivtas sehari-hari baik aktivitas jasmani, rohani dan sosial.
2.    R. Susan mendefinisikan sakit adalah tidak adanya keserasian antara lingkungan dan individu.
3.    Oxford English Dictionary mengartikan sakit sebagai suatu keadaan dari badan atau sebagian dari organ badan dimana fungsinya terganggu atau menyimpang.

Keadaan Sehat – Sakit
A. Kontinum Sehat – Sakit
Status kesehatan seseorang terletak antara dua kutub yaitu “ sehat optimal dan “ kematian “, yang sifatnya dinamis. Bila kesehatan seseorang bergerak kekutub kematian maka seseorang berada pada area sakit (illness area) dan bila status kesehatan bergerak kearah sehat (optimal well being) maka seseorang dalam area sehat (wellness area).
B. Mempertahankan Status Kesehatan
1.     Sesuai dengan sifat sehat-sakit yang dinamis, maka keadaan seseorang dapat dibagi menjadi sehat optimal, sedikit sehat, sedikit sakit, sakit berat dan meninggal.
2.    Bila seseorang dalam area sehat maka perlu diupayakan pencegahan primer (primary prevention) yang meliputi health promotion dan spesific protection guna mencegah terjadinya sakit.
3.    Bila seseorang dalam area sakit perlu diupayakan pencegahan sekunder dan tersier yaitu earlydiagnosisand promt treatment, disability limitation dan rehabilitation.
C. Factor Yang Berpengaruh Terhadap Perunbahan Sehat Sakit
Blum, mengemukakan terdapat 6 faktor yang mempengaruhi status sehat-sakit, yaitu :
1.     Faktor politik meliputi keamanan, tekanan, tindasan dll.
2.    Faktor perilaku manusia meliputi kebutuhan manusia, kebiasaan manusia, adat istiadat.
3.    Faktor keturunan meliputi genetic, kecacatan, etnis, fator resiko, ras dll.
4.    Factor pelayanan kesehatan meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
5.    Faktor lingkungan meliputi udara, air, sungai dll.
6.    Factor social ekonomi meliputi pendidikan, pekerjaan dll.

D. Tingkat Pencegahan
Dalam perkembangan selanjutnya untuk mengatasi masalah kesehatan termasuk penyakit di kenal tiga tahap pencegahan:
·         Pencegahan primer: promosi kesehatan (health promotion) dan perlindungan khusus (specific protection).
·         Pencegahan sekunder: diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment), pembatasan cacat (disability limitation)
·         Pencegahan tersier: rehabilitasi.

1.   Pencegahan primer dilakukan pada masa individu belum menderita sakit, upaya yang dilakukan ialah:
a.    Promosi kesehatan/health promotion yang ditujukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap masalah kesehatan.
b.    Perlindungan khusus (specific protection): upaya spesifik untuk mencegah terjadinya penularan penyakit tertentu, misalnya melakukan imunisasi, peningkatan ketrampilan remaja untuk mencegah ajakan menggunakan narkotik dan untuk menanggulangi stress dan lain-lain.
2.  Pencegahan sekunder dilakukan pada masa individu mulai sakit
a.    Diagnosa dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment), tujuan utama dari tindakan ini ialah 1) mencegah penyebaran penyakit bila penyakit ini merupakan penyakit menular, dan 2) untuk mengobati dan menghentikan proses penyakit, menyembuhkan orang sakit dan mencegah terjadinya komplikasi dan cacat.
b.    Pembatasan cacat (disability limitation) pada tahap ini cacat yang terjadi diatasi, terutama untuk mencegah penyakit menjadi berkelanjutan hingga mengakibatkan terjadinya cacat yang lebih buruk lagi.
3.  Pencegahan tersier
a.    Rehabilitasi, pada proses ini diusahakan agar cacat yang di derita tidak menjadi hambatan sehingga individu yang menderita dapat berfungsi optimal secara fisik, mental dan sosial. Adapun skema dari ketiga upaya pencegahan itu dapat di lihat pada gambar dua. Pada gambar dua proses perjalanan penyakit dibedakan atas a) fase sebelum orang sakit: yang ditandai dengan adanya keseimbangan antara agen (kuman penyakit, bahan berbahaya), host/tubuh orang dan lingkungan dan b) fase orang mulai sakit: yang akhirnya sembuh atau mati.

Promosi kesehatan dilakukan melalui intervensi pada host/tubuh orang misalnya makan makanan bergizi seimbang, berperilaku sehat, meningkatkan kualitas lingkungan untuk mencegah terjadinya penyakit misalnya menghilangkan tempat berkembang biaknya kuman penyakit, mengurangi dan mencegah polusi udara, menghilangkan tempat berkembang biaknya vektor penyakit misalnya genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes, atau terhadap agent penyakit seperti misalnya dengan memberikan antibiotika untuk membunuh kuman.
Perlindungan khusus dilakukan melalui tindakan tertentu misalnya imunisasi atau proteksi pada bahan industri berbahaya dan bising . Melakukan kegiatan kumur-kumur dengan larutan flour untuk mencegah terjadinya karies pada gigi. Sedangkan terhadap kuman penyakit misalnya mencuci tangan dengan larutan antiseptik sebelum operasi untuk mencegah infeksi, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan untuk mencegah penyakit diare.
Diagnosa dini dilakukan melalui proses skrining seperti misalnya skrining kanker payudara, kanker rahim, adanya penyakit-penyakit tertentu pada masa kehamilan, sehingga pengobatan dapat dilakukan saat dini dan akibat buruknya dapat dicegah.
Kadang-kadang batas dari ketiga tahap pencegahan itu tidak jelas sehingga ada kegiatan yang tumpang tindih dapat digolongkan pada perlindungan khusus akan tetapi juga dapat digolongkan pada diagnosa dini dan pengobatan segera misalnya pengobatan lesi prekanker pada rahim dapat termasuk pengobatan dini dapat juga perlindungan khusus.
Selain upaya pencegahan primer, sekunder dan tersier yang dikalangan kesehatan dokter, perawat dan praktisi kesehatan masyarakat dikenal sebagai lima tingkat pencegahan, juga dikenal empat tahapan kegiatan untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat, empat tahapan itu (Rossenberg, Mercy and Annest, 1998) ialah:
Apa masalahnya (surveillance). Identifikasi masalah, apa masalahnya, kapan terjadinya, dimana, siapa penderitanya, bagaimana terjadinya, kapan hal itu terjadi apakah ada kaitannya dengan musim atau periode tertentu.
Mengapa hal itu terjadi (Identifikasi faktor resiko). Mengapa hal itu lebih mudah terjadi pada orang tertentu, faktor apa yang meningkatkan kejadian (faktor resiko) dan faktor apa yang menurunkan kejadian (faktor protektif).
Apa yang berhasil dilakukan (evaluasi intervensi). Atas dasar kedua langkah terdahulu, dapat di rancang upaya yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya masalah, menanggulangi dengan segera penderita dan melakukan upaya penyembuhan dan pendampingan untuk menolong korban dan menilai keberhasilan tindakan itu dalam mencegah dan menanggulangi masalah.
Setelah diketahui intervensi yang efektif, tindakan selanjutnya Bagaimana melaksanakan intervensi itu di pelbagai tempat dan setting dan mengembangkan sumber daya untuk melaksanakannya.


Sumber:
Rossenberg, Mercy and Annest, 1998
http://dianhusadautamiblogspotcom.blogspot.co.id/p/konsep-sehat-sakit.html

Jumat, 22 Januari 2016

DISINHIBITION DAN INTERNET



CHAPTER 4
Oleh : Shafa Aisya (1A514182)
2Pa09

DISINHIBITION DAN INTERNET
Lebih dari 10 tahun penelitian psikologi dalam bidang internet, membahas tentang pengakuan umum masyarakat yang berbeda-beda saat sedang berinternet dan saat tidak berinternet (e.g., Joinson, 2003; Suler, 2004). Sebagai contoh, mereka memiliki kekuatan saat melakukan hal memalukan di internet, saat yang menyiksa dan memalukan adalah saat sedang tidak berinternet. Mereka dapat bergosip dan membalas email orang lain saat berinternet, saat seperti itu mereka dapat bertingkah dengan leluasa. Atau, mereka mencari informasi melalui internet (seperti kesehatan atau pornografi) itu yang tidak dapat mereka lakukan saat sedang tidak berinternet. Ini hal yang umum tentang perselisihan yang diistilahkan dengan “Disinhibition (ketidak mampuan menahan impuls yang dibendung)” (Joinson, 1998) atau biasa disebut  Online Disinhibition Effect”” (Suler, 2004).
Pada bab ini fokus terhadap bukti tentang Disinhibition saat berinternet  terdapat dua bidang: komunikasi (untuk pengungkapan diri dan menyala) dan melihat informasi (untuk melihat pornografi). 

BUKTI DISINHIBITION
PENGUNGKAPAN DIRI DAN INTERNET
Banyak yang menjadi contoh eksperimen dan bukti anecdotal menyarankan pada Computer Mediated Communication (CMC) dan umumnya internet berdasarkan pada tingkah laku bisa jadi mengandung level tertinggi pengungkapan diri. McKenna and Bargh menemunkan pengungkapan diri dalam internet memiliki akibat yang besar pada kehidupan nyata: Akibat langsung dari internet anggota newgroup dan partisipasi, lebih dari 37% partisipan dalam study 2, dan 63% dalam study 3 mengungkapkan rahasia yang memalukan tentang mereka (p. 691).
Dalam seri belajar dilaporkan oleh  Joinson (2001), level pengungkapan diri diukur berdasarkan kadar analisis dari salinan face-to-face (FtF) dan sinkronis CMC diskusi (study one), dan dalam kondisi pengelihatan anonim dan video links selama CMC (study two). Kedua study ini bersama menyediakan visually anonimous secara empiris CMC cenderung memimpin ke level tertinggi pengungkapan diri. (e.g., through the use of a video link or accountability cues ( Joinson, 2001, study 3), as well as encouraged.

GEJOLAK DAN PERILAKU ANTISOSIAL
Dalam format asli, “gejolak” mengarah kepada tak henti-hentinya berbicara atau obrolan sia-sia. Entah bagaimana, pada umumnya itu datang terlihat sebagai negatif atau tingkah laku antisosial dalam berinternet di komputer. Saat seperti antagonis atau agresif chat diperlihatkan antar masyarakat, itu akan menyebabkan “perang api.” Sarjana meneliti terjadinya gejolak yang menghambat ketidak jelasan dari definisi untuk mengukur dalam penelitian laboratory. contohnya, Kiesler et al. (1985) Gejolak diopersionalkan sebagai:
·         Laporan impilited
·         Sumpah / menggoda
·         Seruan
·         ekspresi perasaan seseorang terhadap orang lain
·         penggunaan superlatif
Orang mengoperasikan gejolak dan memasukkannya dalam kategori kata-kata tidak senonoh, “typo- graphic energy” (e.g., exclamation marks), disebut juga, sumpah, dan pengaruh umum negatif. Saat fokus terhadap projek  penelitian berasal dari gejolak dari “tak menghalangi” komunikasi (Lea et al., 1992). Dari banyak contoh, gejolak , dari definisi , sesuatu antara hanya terjadi didalam internet komputer, keunikan dari internet komputer,atau lebih jelas pada internet komputer dari pada tatap muka.

BUKTI EMPIRIS DALAM GEJOLAK
Dalam tiga study awal diuraikan dalam Kiesler et al. (1984) dalam tingkat tak terbatas tingkah laku berbicara dimana membandungkan empat kondisi: komunikasi tatap muka, pertemuan tanpa nama komputer (satu kebanyak orang), pertemuan non-anonymous komputer (satu kebanyak orang),dan e-mail.

DISINHIBITION DAN WORLD WIDE WEB (WWW)
Diseluruh diskusi ini, berfokus kepada komunikasi. Entah bagaimana, ada juga bukti yang cukup  dalam tingkah laku di World Wide Web, Sementara tidak diperlukan "menyimpang," dapat dilihat sebagai tak terbatas. Studi psikologis WWW cenderung untuk fokus pada tiga bidang utama: penggunaan WWW untuk melakukan penelitian psikologis (misalnya, Birnbaum, 2004); interaksi yang dengan antarmuka WWW dan kegunaan; dan proses psikologis yang terlibat dalam perilaku WWW.
INTERNET PORNOGRAPHY
Salah satu bidang perilaku WWW yang telah menerima beberapa penelitian perhatian adalah mengakses materi pornografi. Pornografi jauh lebih mudah diakses di Internet daripada di atas kertas. Peningkatan aksesibilitas tidak hanya mengelakan hukum diadakan secara lokal pada penecabulan (efektif mengurangi apa yang diterima thelowest denominator umum karena di situlah situs Web akan diselenggarakan), tetapi juga menghilangkan banyak hambatan psikologis yang terkait dengan, katakanlah, membeli pornografi di toko lokal seseorang. Namun, isi dan kuantitas pornografi di Internet telah berada di bawah dan diteliti oleh cyberpsychologists.

FORMAT DARI PORNOGRAFI DI INTERNET
Studi Rimm dari gambar-gambar porno berusaha untuk menganalisis mereka untuk isi yang dengan secara otomatis mengumpulkan deskripsi dari gambar. Sebagai deskripsi gambar mungkin akan lebih terkait dengan iklan dari konten terntentu yang sebenarnya, ada kemungkinan bahwa metode ini di diciptakan tingkat kecabulan.
Untuk mengatasi cabul, Mehta dan Plaza (1997) menganalisis 150 gambar seksual yang diambil dari 17 newsgroup pada hari pada tahun 1994. Sebagian besar gambar yang diposting oleh anonim pengguna Usenet nonkomersial (65%). Tema utama yang muncul dari analisis yang muncul alat kelamin manusia (43%), tegak penis (35%), fetishes (33%), dan masturbasi (21%). Jumlah bahan paling mungkin dianggap ilegal di sebagian besar negara juga tinggi: 15% dari gambar baik yang terkandung anak-anak atau remaja atau pemuda dalam gambar atau teks. Paraphelias lainnya yang tercatat, termasuk perbudakan dan disiplin (10%), penyisipan benda asing (17%), bestiality (10%), incest (1%), dan buang air kecil (3%). Mehta dan Plaza dicatat bahwa distribusi jenis gambar mirip dengan yang ditemukan oleh Rimm dalam studinya tentang papan buletin.
Mehta dan Plaza juga mencatat bahwa isi dari pornografi internet tampaknya berbeda dari yang majalah dan video. Misalnya, fellatio, homoseksualitas, dan kelompok seks yang lebih sering ditemukan di situs internet (15, 18, dan 11%, masing-masing) dibandingkan dalam studi yang sebanding media tradisional (8.1, 2-4, dan 1-3%, masing-masing) . Dibandingkan dengan anonim, pengguna non-komersial, pengguna komersial (yaitu, mereka secara efektif posting iklan) yang secara berarti lebih mungkin untuk memasukkan materi eksplisit (penggunaan benda asing, fellatio, dan anak-anak / remaja).

PENJELASAN DARI DISINHIBITON DI INTERNET
Konsep deindividuation dapat ditelusuri ke peneliti Perancis Gustave Le Bon pada tahun 1895. Le Bon berpendapat bahwa menjadi anggota dari kerumunan menyebabkan penggenangan, sebuah negara di mana kendala normal pada perilaku individu dihapus. Dalam psikologi sosial modern eksperimental, asi deindividu- Istilah ini diciptakan oleh Festinger dkk. (1952) untuk menjelaskan mengapa laki-laki yang mengingat kode informasi yang kurang individuating menampilkan lebih banyak permusuhan terhadap orang tua mereka.
Teori menjadi sasaran serangkaian formulasi ulang, berbagai memperhitungkan peran berkurang fokus internal (Diener, 1980) dan mengurangi kesadaran komponen masyarakat dari perilaku sendiri (Prentice-Dunn & Rogers, 1982). Prentice-Dunn dan Rogers menunjukkan bahwa deindividuation disebabkan oleh dua faktor-faktor: pengurangan isyarat akuntabilitas (misalnya, anonimitas atau keanggotaan kelompok menyebabkan berkurangnya kekhawatiran tentang reaksi orang lain) dan mengurangi kesadaran diri (dan karena itu menurun self-regulation dan penggunaan standar internal). Menurut beberapa peneliti CMC, orang berkomunikasi melalui komputer mungkin deindividuated

MENGURANGI ISYARAT SOSIAL
Penjelasan terkait perilaku online disinhibited berasal dari bandwidth yang terbatas jaringan CMC, dan pengurangan berikutnya dituduhkan dalam isyarat-isyarat sosial selama interaksi. Ini, menurut mengurangi pendekatan isyarat-isyarat sosial, mengarah ke penurunan pengaruh dari norma-norma sosial dan kendala (Kiesler et al, 1984;.) Dan dengan demikian menyebabkan antinormative dan deregulasi prilaku.
Namun, pendekatan RSC telah sangat dikritik karena mengambil "socialness" dari CMC (lihat Spears & Lea, 1992). Menurut model RSC, sosial pengaruh di CMC akan terutama didasarkan pada keseimbangan informasi yang dipertukarkan (Kiesler et al., 1984). Namun, Spears dan Lea (1992) meringkas penelitian polarisasi kelompok yang menunjukkan bahwa CMC, dalam keadaan tertentu, mematuhi normatif pengaruh daripada pinjaman itu sendiri untuk perilaku antinormative. Namun, pengembangan hubungan online, di samping pembangunan isyarat interpersonal yang sosial (misalnya, smilies, tanda-tanda tindakan) dan isyarat kategori yang terkandung dalam e-mail header dan tanda tangan (misalnya, jenis kelamin, lokasi, pekerjaan), menunjukkan bahwa CMC tidak kekurangan "socialness" (slaSpears & Lea, 1992).

DUA-KOMPONEN DIRI-KESADARAN MODEL
Ini juga telah berpendapat bahwa disinhibition sering terlihat dalam studi CMC mungkin karena lebih tinggi daripada rendah diri fokus (Joinson, 2001; Matheson & Zanna, 1988). Menurut Duval dan Wicklund (1972), perhatian sadar dapat diarahkan pada lingkungan (disebut "publik" kesadaran diri) atau ke arah diri (disebut "swasta" kesadaran diri). Kesadaran diri publik disebabkan oleh situasi di mana seorang individu menyadari kemungkinan sedang dievaluasi (misalnya, ketika sedang direkam atau dinilai) atau ketika mereka khas sosial (misalnya, ketika mereka adalah minoritas di kelompok). Kesadaran diri pribadi adalah ketika orang menyadari motif batin mereka, sikap, tujuan, dan sebagainya, dan dapat diinduksi, misalnya, dengan memiliki orang-orang melihat ke dalam cermin. Menjadi pribadi sadar diri harus mengarah prilaku, IOR sedang mengatur oleh tujuan individu, kebutuhan, dan standar (Carver & Scheier, 1981). Menurut Matheson dan Zanna, kesadaran diri pribadi dan umum dianggap "relatif ortogonal" (hal. 222), yaitu, seseorang dapat menyadari "baik, satu atau tidak aspek diri" (hal. 222) .
Karya kedua Joinson dan Sassenberg dkk. menunjukkan bahwa perilaku online dapat dipahami dalam arti interpersonal. Artinya, fokus kami pada diri kita sendiri tive untuk orang lain menjelaskan (beberapa) aspek perilaku online. Namun, dalam model berikutnya (SIDE), pendekatan kesadaran diri menunjukkan bahwa perilaku online diatur-baik oleh sikap kita sendiri dan keyakinan (melalui peningkatan kesadaran diri pribadi) atau keanggotaan kelompok kami dan sikap terkait (melalui identitas sosial yang menonjol).

SOSIAL IDENTITAS PENJELASAN EFEK DEINDIVIDUATION (SIDE)
Penjelasan lebih lanjut dari perilaku CMC berasal dari model SIDE (Reicher et al., 1995). Menurut model ini, kebanyakan efek deindividuation, dari yang dilaporkan oleh Zimbardo (1969) dan seterusnya, dapat dijelaskan tanpa bantuan deindividuation. Anonimitas, karena kurangnya fokus pada diri sebagai individu, cenderung mengarah pada aktivasi identitas sosial daripada aktivasi identitas pribadi (Reicher et al., 1995). Hal ini menyebabkan pengaturan perilaku berdasarkan norma-norma yang terkait dengan kelompok sosial yang menonjol.
PENJELASAN MULTI-FAKTOR DAN DISINHIBITION
Suler (2004) mengidentifikasi enam faktor utama yang menyebabkan "efek disinhibition online," beberapa sebelumnya mapan, yang lain berdasarkan teori psikoanalitik. Ini adalah anonimitas disosiatif, tembus pandang, asynchronicity, introyeksi solipsistik, dan minimalisasi otoritas. Suler berpendapat bahwa anonimitas online memungkinkan orang untuk kotakkan diri online mereka dan merasionalisasi bahwa perilaku online mereka 'tidak benar-benar sama sekali "(hal. 322).

PENDEKATAN PRIVASI BERBASIS UNTUK MEMAHAMI DISINHIBITION
Joinson dan Paine (di media) berpendapat bahwa peningkatan pengawasan kegiatan Internet membuat penjelasan hanya berdasarkan anonimitas unviable. Misalnya, kita dapat mengontrol informasi apa yang kita pilih untuk mengungkapkan, dengan cara apa, dan bagaimana kita mengungkapkannya. Dengan menghapus kontrol dari CMC (misalnya, dengan memperkenalkan video atau sinkronisitas), kami juga menghapus kontrol, dan dengan demikian kompromi privasi. Jelas maka, menurut pendekatan ini, kita perlu untuk sepenuhnya menghargai tidak hanya aspek media yang memungkinkan perilaku disinhibited, tetapi juga motivasi dan proses psikologis dari pengguna individu dan konteks sosial tertentu mereka.

KESIMPULAN
Disinhibisi adalah salah satu dari beberapa dilaporkan secara luas dan mencatat Media efek dari interaksi online. Namun, meskipun bukti bahwa disinhibition terjadi di sejumlah konteks yang berbeda secara online, termasuk CMC, Web-log dan penyerahan formulir Web, yang paling pendekatan untuk memahami fenomena co fine diri mereka untuk mempertimbangkan dampak dari faktor-anonimitas tunggal. Saya berpendapat bahwa dengan berfokus hanya pada efek tingkat mikro media ini, konteks yang lebih luas di mana perilaku tersebut dilakukan diabaikan-dan yang mengabaikan ini batas konteks bagaimana kita dapat konsep perilaku online. Dengan mempertimbangkan konteks yang lebih luas, dan dalam TERTENTU, implikasinya untuk privasi, adalah mungkin untuk mengembangkan gambaran yang lebih bernuansa mengenai perilaku disinhibition berinternet.
 
Copyright © 2010 Welcome To My Blog ♥ | Design : Noyod.Com