Winnie The Pooh

Jumat, 22 Januari 2016

DIRI SECARA ONLINE : KEPRIBADIAN DAN IMPLIKASI DEMOGRAFI



CHAPTER 3
Oleh : Mega Pratiwi ( 16514530 )
2Pa09

DIRI SECARA ONLINE : KEPRIBADIAN DAN IMPLIKASI DEMOGRAFI

PENGANTAR
            Munculnya internet telah merubah budaya kita dan juga memberikan pengaruh yang kuat terhadap bagaimana kita berhubungan dengan diri kita sendiri maupun dengan orang lain. Internet memungkinkan kita untuk menjadi diri kita yang sebenarnya atau bisa juga memungkinkan kita untuk mencoba menjadi orang lain dengan identitas yang berbeda dengan kenyataan, yang tentunya sulit dilakukan saat berkomunikasi secara langsung.
            Hal ini memberikan efek negatif maupun efek positif. Efek positifnya adalah memungkinkan kita untuk berhubungan dengan orang lain tanpa penilaian kehadiran fisik yang biasanya terjadi dalam komunikasi tatap muka dan agresi internet dapat membuat kesadaran diri yang lebih besar dan menjadi katalis bagi perubahan positif. Sedangkan efek negatifnya adalah dapat memperkuat aspek maladaptif dari diri kita sendiri.

CARA BARU BERPIKIR TENTANG IDENTITAS
            Psikolog percaya bahwa kita memiliki identitas yang terdiri dari aspek yang berbeda – beda, tergantung pada sejarah psikologis dan biologis kita dan situasi saat ini. Mengintegrasikan berbagai aspek diri menjadi satu identitas telah lama dianggap sebagai penanda perkembangan dewasa, namun pemikiran post modern memandang gagasan beberapa diri bukan dari satu diri sebagai adaptasi sehat untuk kompleksitas kehidupan modern. Dalam masyarakat kotemporer, gaya hidup alternatif, jenis struktur keluarga, dan model budaya telah menjadi semakin terlihat, sehingga berbagai proyeksi diri secara online tergantung konteks mungkin tidak lagi dilihat sebagai maladaptif melainkan sebagai contoh eksplorasi diri.
            Ada banyak kesempatan untuk memperdalam kesadaran sesorang secara online, baik secara sadar dengan wacana yang bermakna dengan orang yang mungkin tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertemu secara langsung dan secara tidak sadar dengan mendapatkan secara emosional dengan cara yang jarang terjadi pada interaksi tatap muka.
            Internet juga dapat memungkinkan seseorang pria gay mengeksplorasi identitasnya sebagai gay dan menjadi nyaman dengan itu di relatif anonimitas sebelum datang ke teman dan keluarga. Seseorang yang malu atau sadar diri dengan penampilan fisiknya dapat membuka dan mengeksplorasi keintiman emosional dalam suatu lingkungan dimana penampilan fisik tidak relevan. Namun, internet juga memungkinkan akses mudah ke berbagai kecanduan potensial termasuk pornografi dan fantasi role –playing. Internet juga menawarkan akses mudah ke korban untuk mereka yang terlibat dalam perilaku predator.
            Jika seseorang memproyeksikan dirinya secara online berbeda dari kepribadiannya secara offline maka dapat menyebabkan tekanan psikologis baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain.

SATU DIRI ATAU BANYAK : EKSPLORASI REMAJA
            Remaja kadang – kadang mengeksplorasi identitas yang berbeda secara radikal sebagai cara untuk menegaskan kemerdekaan mereka, rambut biru, cincin hidung merupakan cara tubuh untuk menjadi unik. Budaya goth, skater, grunge dan stoner memungkinkan anak – anak untuk mengeksplorasi diri yang berbeda. Ketika anak – anak mencoba kepribadian yang berbeda dari dunia offline, mereka terbatas hanya dengan beberapa pilihan yang realistis, beberapa ini adalah eksplorasi yang sehat dari diri sementara yang lain dapat berbahaya.
            Secara online, peluang untuk mengeksplorasi identitas yang berbeda mungkin lebih mudah. Valkenburg, dkk (2005), mensurvey 600 pelajar usia 18 tahun dalam pengaturan ruang kelas, bertanya apakah mereka sudah menjelajahi identitas online mereka menggunakan ruang chatting? Dan 50% mengindikasikan bahwa mereka telah terlibat dalam percobaan identitas online. Motif yang paling penting untuk percobaan tersebut adalah :
·         Eksplorasi diri ( menyelidiki bagaimana orang lain bereaksi )
·         Kompensasi sosial ( mengatasi rasa malu )
·         Sosial fasilitasi ( memfasilitasi pembentukan hubungan )
            Identitas dapat dilihat dari segi kesadaran diri sendiri yang mana perhatian kita terfokus pada diri sendiri. Perspektif pada diri ini terkait erat dengan memori dan cara berpikir. Jadi, jika kita terfokus pada diri kita, kita bisa mendapatkan wawasan mengenai siapa kita. Tetapi suasana hati mempengaruhi fokus diri tersebut, dalam suasana hati yang negatif kita lebih cenderung untuk menghadiri informasi negatif tentang diri kita, begitu juga sebaliknya.
            Penelitian psikologis yang membandingkan identitas secara online vs offline menunjukkan bahwa proses menciptakan identitas online dan offline itu serupa. Melakukan penelitian psikologis secara online kini telah menjadi praktek yang meluas dan diterima di masyarakat ilmiah dengan prosedur metodologis. Namun, ada juga aspek dari dunia online yang menghasilkan pengalaman unik dalam diri kita.

EKSPANSI DIRI ATAU DISINHIBITION ONLINE
            Disinhibition didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mengontrol perilaku impulsif, pikiran atau perasaan dan memanifestasikan komunikasi dengan cara yang tidak biasa dilakukan secara offline. Pola komunikasi ini bisa positif ( memungkinkan hubungan yang lebih dalam ) dan negatif ( komentar marah atau kurangnya kejujuran dalam pengungkapan ).
            Niederhoffer dan Pennebaker (2002) terkejut ketika wawancara setelah percobaan, ternyata siswa yang baru saja terlibat secara online dalam diskusi tentang petualangan seksual grafis adalah orang yang sopan dan pemalu. Dalam analisi rinci dari efek disinhibition, Suler menyoroti 6 alasan mengapa orang memperpanjang ekspresi emosional mereka dari diri saat online :
·         Dissociative anonymity
·         Invisibility
·         Asynchronicity
·         Solipsistic introjection
·         Dissociative imagination
·         Minimization of status and authority

KEPRIBADIAN ONLINE
            Dalam Yuen dan Lavin’s (2004), penelitian baru menemukan bahwa siswa yang pemalu cenderung menggunakan internet secara kompulsif yang mengarah pada kegagalan dalam kelas dan akhirnya meninggalkan sekolah. Karena, siswa malu menyukai interaksi online dan internet menyediakan tempat yang aman dimana perasaan tidak nyaman sosial dapat dikurangi. Mereka lebih suka duduk di depan komputer mereka daripada berpartisipasi dalam kegiatan sosial.
            Anak – anak dan remaja bukan satu – satunya orang yang rentan terhadap isu – isu identitas online atau offline, orang dewasa yang telah mendapatkan rasa lebih jelas pada dirinya juga bisa mengalami isu – isu tersebut karena perspektif dari diri kita tidak tetap statis. Para peneliti telah mengidentifikasikan beberapa konstruksi kepribadian utama yang relatif abadi bagi kebanyakan dari kita diseluruh rentan hidup yang disebut big 5. Karakteristik kepribadian utama adalah :
·         Introvert dan ekstrovert
·         Keramahan
·         Kesadaran
·         Kestabilan emosi
·         Keterbukaan untuk mencoba
            ( Larsen & Buss, 2005 ). Namun ada juga karakteristik kepribadian lain yang mungkin muncul sebagai akibat dari peristiwa kehidupan.

INTROVERT DAN EKSTROVERT ONLINE
            Studi paling kontroversional pada diri sebagai fungsi kehidupan online dilakukan oleh Kraut, dkk (1998). Dalam sebuah studi tindak lanjut, kelompok yang sama diperiksa introvert dan ekstrovert gaya kepribadiannya. Kraut, dkk (2002), menemukan efek positif untuk komunikasi, keterlibatan sosial, dan kesejahteraan psikologis, tergantung pada tipe kepribadian, bahwa sejalan dengan kepribadian mereka, ekstrovert meningkatkan kontak sosial mereka dengan menjadi online sementara introvert menurunkan kontak sosial dengan menggunakan internet secara ekstensif. Hal yang sama juga ditemukan dengan kesepian, ekstrovert menjadi kurang kesepian sedangkan introvert menjadi kesepian dengan penggunaan internet.
            Penggunaan internet sering disarankan sebagai cara untuk berlatih dalam pertukaran sosial bagi individu pemalu, tapi penelitian tampaknya tidak mendukung usulan itu. Engelberg dan Sjoberg (2004), menemukan bahwa penggunaan internet terkait dengan kesepian dan kepatuhan terhadap nilai – nilai istimewa ( efek kuat ) dan untuk keseimbangan antara kerja dan liburan juga emosional intelegensi ( efek lemah ), tetapi mereka tidak menemukan hubungan dengan big 5 karakteristik kepribadian.

JENIS KEPRIBADIAN ONLINE YANG LAIN
            Morgan dan Cotton (2003), menemukan depressiveness yang diasosiasikan diciptakan dengan menggunakan internet tetapi tergantung pada jenis penggunaan secara khusus, mereka menemukan bahwa email, chatting, dan pesan instan berhubungan dengan penurunan gejala – gejalan depresi, sedangkan saat berbelanja bermain game, atau mencari informasi berhubungan dengan peningkatan gejala depresi. Perbedaan mendasar antara set kegiatan adalah bahwa mengobrol melibatkan orang lain sedangkan kegiatan yang soliter tampaknya meningkatkan isolasi. Morgan dan Cottong (2003), juga menunjukkan bahwa keterbukaan emosional jelas di dalam chat room karena kita merasa mampu mengekspresikan diri dan dipahami, sebaliknya tidak ada respon seperti biasanya terjadi saat berbelanja karena itu adalah kegiatan solo.
            Dalam sebuah studi yang menarik mengenai empati, peneliti berhipotesis dan menemukan bahwa mereka yang tinggi di empati lebih mampu mengalami rasa realistis di dunia maya. Empati adalah kemampuan untuk mengidentifikasi orang lain, tampaknya pria membutuhkan keterlibatan yang lebih langsung untuk mengalami rasa empati daripada wanita.
            Berbagai studi telah meneliti perilaku variabel kepribadian online. Satu studi ditangani dengan penggunaan pribadi internet ditempat kerja ( Everton, dkk 2005 ) sementara yang lain diperiksa adalah penyalahgunaan internet oleh anak – anak ( Harman, dkk 2005 ). Everton, dkk (2005), menemukan bahwa “orang – orang yang menggunakan komputer mereka dengan cara – cara yang tidak produktif cenderung laki – laki, lebih muda, lebih impulsif, dan kurang teliti”. Mereka juga mencatat bahwa pencari sensasi lebih cenderung menggunakan komputer atau internet mereka untuk melihat materi seksual di tempat kerja. Kepribadian dan penyalahgunaan internet oleh anak – anak adalah fokus dari Harman, dkk (2005), yang secara khusus tertarik pada perilaku berpura – pura secara online. Anak – anak antara usia 11 – 16 tahun yang lebih mungkin untuk melakukan ini. Fokus kedua studi ini adalah masa pertumbuhan dan perubahan mengenai diri, hal yang menarik dari penelitian ini adalah bahwa masalah yang ada bukan dikaitkan dengan waktu penggunaan tetapi dengan apa yang mereka lakukan secara online.
            Akhirnya, peneliti akan mengubah pemeriksaan diri online kita untuk berbagai demografi termasuk jenis kelamin dan usia yang mungkin menjadi cara lebih jelas untuk menentukan bagaimana kepribadian dengan pengaruh diri dan dipengaruhi oleh pengalaman internet.

DIRI SEBAGAI DEMOGRAFI ONLINE
            Psikolog perkembangan telah menunjukkan kepada kita bahwa salah satu unsur yang paling awal dalam pembangunan rasa diri kita adalah jenis kelamin. Selain itu yang juga penting dalam mengembangkan diri adalah elemen dari: usia, ras, budaya, dan status sosial ekonomi. Jadi, secara online unsur – unsur dari diri juga menginformasikan pengalaman kita. Pada tahun 1998, Morahan – Martin mencatat : ada kesenjangan jenis kelamin dalam penggunaan internet, dari sejak kecil laki – laki lebih berpengalaman dengan komputer dan memiliki sikap yang lebih menguntungkan terhadap komputer daripada perempuan. Budaya internet disusun oleh pengguna awalnya, terutama para ilmuan laki – laki, matematikawan, dan hacker komputer berteknologi canggih. Budaya ini bisa tidak menyenangkan dan asing bagi perempuan.
            Sebuah penelitian dari Williamson in eMarketer (mai 2005), menujukkan bahwa pada tahun 2004 perempuan telah menjadi mayoritas pengguna internet AS (51,6%) dan tren yang diperkirakan akan terus berlanjut. Perempuan telah menggunakan internet untuk game online, konten kesehatan dan musik, juga semakin beralih pada berbelanja secara online.

JENIS KELAMIN DAN PENGGUNAAN INTERNET
            Ono dan Zavodny (2003), meninjau beberapa survey dari perbedaan gender dalam penggunaan internet dari tahun 1997 – 2000. Mereka menemukan bahwa pada saat melakukan trolling perbedaan sosial ekonomi perempuan secara signifikan lebih mungkin dibandingkan pria untuk menggunakan internet dalam pertengahan 1990-an, tapi kesenjangan gender ini secara online menghilang pada tahun 2000. Perbedaan gender dalam jenis penggunaan telah dilaporkan oleh beberapa kelompok termasuk kelompok Pew ( Rainie & Kohot, 2000 ). Mereka mencatat :
·         55% pengguna internet mengatakan pertukaran email mereka telah meningkatkan hubungan mereka kepada anggota keluarga ( 60% perempuan mengatakannya dan 51% laki – laki mengatakannya )
·         59% dari mereka yang melaporkan keluarganya menggunakan email secara signifikan lebih sering berkomunikasi ( 61% perempuan mengatakannya dan 56% laki – laki mengatakannya )
·         66% dari pengguna internet mengatakan email telah meningkatkan hubungan mereka dengan teman secara signifikan ( 71% perempuan mengatakannya dan 61% laki – laki mengatakannya )
·         60% dari mereka berkomunikasi lebih signifikan dengan temannya yang memiliki email ( 63% perempuan mengatakannya dan 54% laki – laki mengatakannya )
·         49% pengguna email mengatakan mereka akan kehilangan banyak email jika mereka lama tidak menggunakannya ( 56% perempuan mengatakannya dan 43% laki – laki mengatakannya )
JENIS KELAMIN DAN PERMAINAN
            Penelitian telah menunjukkan bahwa bermain video game adalah prediktor kuat dalam penggunaan komputer dan internet. Meunier (1996), menunjukkan bahwa laki – laki cenderung lebih tertarik pada komputer dibandingan perempuan. Fenomena ini berasal dari sosialisasi baik didalam maupun luar sekolah. Perempuan lebih mungkin menggunakan komputer dan internet tetapi tidak untuk bermain video game, itu karena mereka menganggap bermain game adalah hal yang membosankan, berbeda dengan laki – laki yang menganggap bermain game adalah hal yang menyenangkan dan bisa meningkatkan hubungan mereka dengan teman – temannya. 

ORANG TUA
            Segmen populasi setidaknya diwakili kalangan orang tua dalam penggunaan internet. Mereka mewakili 18% dari rumah tangga dengan akses internet. Menurut sensus AS 2000 (Newburger, 2001 ), pada tahun 2003 laporan UCLA ( Cole, dkk 2003 ), mengatakan bahwa 65+ kelompok memiliki 34% pengguna, ini menjelaskan bahwa penggunaan internet dikalangan orang tua berkembang.

STATUS SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA
            Psikolog menunjukkan bahwa budaya dunia dapat dikonseptualisasikan sepanjang dimensi kolektivitas vs individualisme ( Larsen & Buss, 2005 ). Beberapa menekankan hak individu sementara yang lain menekankan tanggung jawab, kelompok barat, industri, dan budaya yang tersambung ke internet pada umumnya cenderung kaya dan individualistik sementara budaya asia, timur tengah, amerika selatan dan afrika yang memiliki presentasi yang jauh lebih rendah dari koneksi internet cenderung kolektivis.

ETNIS
            Etnis dalam pengguna online juga berubah, sebagai hasil dari NUA survey internet berikut (2001) menunjukkan :
·         Jumlah pengguna internet di rumah di US meningkat sebesar 33% pada tahun 2000, dengan Afrika Amerika memimpin pertumbuhan online
·         Menurut angka dari Nielsen / NetRatings (2004), populasi online Afrika Amerika meningkat sebesar 44% menjadi 8,1 juta antara Desember 1999 dan Desember 2000
·         Penggunaan internet dikalangan hispanik tumbuh sebesar 19% menjadi lebih dari 4,7 juta orang. Sedangkan, jumlah pengguna internet dari Asia Amerika mencapai 2,1 juta meningkat 18%
·         Kaukasia tetap merupakan kelompok etnis terbesar dalam penggunaan internet di rumah di Amerika sebanyak 87,5 juta pengguna
·         NetRatings, yang menyebabkan pertumbuhan penggunaan internet diseluruh kelompok etnis adalah biaya penurunan PC dan akses internet yang lebih murah (www.NUA.ie)
            Internet tetap menjadi gaya hidup yang relatif istimewa dalam hubungannya dengan etnis, kelas, dan jenis kelamin terkait dengan penggunaan internet di masyarakat. 85% dari sekolah – sekolah AS yang di survey untuk studi ini memiliki komputer multimedia dan 64% memiliki akses internet. Sedangkan, sekolah miskin dan minoritas memiliki akses yang kurang. Dalam laporan yang lebih baru oleh kelompok Pew ( Spooner&Rainie, 2004 ), perbedaan ras antara kulit putih dan kulit hitam di AS diperiksa, ternyata hasil yang didapat adalah serupa dengan penelitian sebelumnya bahwa, kulit hitam hanya menggunakan (36%) dan kulit putih (50%) dalam menggunakan internet.

PERAN SOSIAL DAN KETIMPANGAN ONLINE
            Sebelum abad ke 90-an masih banyak orang Eropa yang buta huruf, sampai akhirnya mucul pendidikan dasar wajib yang menyatakan bahwa kemampuan membaca menjadi nilai psikologis, sosial, dan ekonomi barulah banyak orak Eropa yang mengenal tulisan. Sampai akhirnya mengerti komputer adalah pendukung keberhasilan individu dalam masyarakat barat.
            Banyak bentuk teknologi komunikasi telah dikaitkan dengan organisasi sosial politik tertentu. Dalam sejarah teknologi komunikasi barat, alfabet dan mesin cetak telah dipuji sebagai pertanda demokrasi dan kebebasan berbicara. Namun ada sebuah paradox yang menyatakan bahwa tanah virtual kebebasan berbicara dan kebebasan pribadi yang membatasi akses internet adalah teknologi rasial, seksual, dan kode ekonomis yang dapat menakutkan bagi banyak anggota masyarakat pada umumnya. Akses ke teknologi ini membutuhkan investasi psychoemotional berat yang beberapa orang mungkin tidak mampu membayarnya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2010 Welcome To My Blog ♥ | Design : Noyod.Com