CHAPTER
3
Oleh : Mega
Pratiwi ( 16514530 )
2Pa09
DIRI SECARA
ONLINE : KEPRIBADIAN DAN IMPLIKASI DEMOGRAFI
PENGANTAR
Munculnya
internet telah merubah budaya kita dan juga memberikan pengaruh yang kuat
terhadap bagaimana kita berhubungan dengan diri kita sendiri maupun dengan
orang lain. Internet memungkinkan kita untuk menjadi diri kita yang sebenarnya
atau bisa juga memungkinkan kita untuk mencoba menjadi orang lain dengan
identitas yang berbeda dengan kenyataan, yang tentunya sulit dilakukan saat
berkomunikasi secara langsung.
Hal
ini memberikan efek negatif maupun efek positif. Efek positifnya adalah
memungkinkan kita untuk berhubungan dengan orang lain tanpa penilaian kehadiran
fisik yang biasanya terjadi dalam komunikasi tatap muka dan agresi internet
dapat membuat kesadaran diri yang lebih besar dan menjadi katalis bagi
perubahan positif. Sedangkan efek negatifnya adalah dapat memperkuat aspek
maladaptif dari diri kita sendiri.
CARA BARU
BERPIKIR TENTANG IDENTITAS
Psikolog
percaya bahwa kita memiliki identitas yang terdiri dari aspek yang berbeda –
beda, tergantung pada sejarah psikologis dan biologis kita dan situasi saat
ini. Mengintegrasikan berbagai aspek diri menjadi satu identitas telah lama
dianggap sebagai penanda perkembangan dewasa, namun pemikiran post modern memandang
gagasan beberapa diri bukan dari satu diri sebagai adaptasi sehat untuk
kompleksitas kehidupan modern. Dalam masyarakat kotemporer, gaya hidup
alternatif, jenis struktur keluarga, dan model budaya telah menjadi semakin
terlihat, sehingga berbagai proyeksi diri secara online tergantung konteks
mungkin tidak lagi dilihat sebagai maladaptif melainkan sebagai contoh
eksplorasi diri.
Ada
banyak kesempatan untuk memperdalam kesadaran sesorang secara online, baik
secara sadar dengan wacana yang bermakna dengan orang yang mungkin tidak pernah
memiliki kesempatan untuk bertemu secara langsung dan secara tidak sadar dengan
mendapatkan secara emosional dengan cara yang jarang terjadi pada interaksi tatap
muka.
Internet
juga dapat memungkinkan seseorang pria gay mengeksplorasi identitasnya sebagai
gay dan menjadi nyaman dengan itu di relatif anonimitas sebelum datang ke teman
dan keluarga. Seseorang yang malu atau sadar diri dengan penampilan fisiknya dapat
membuka dan mengeksplorasi keintiman emosional dalam suatu lingkungan dimana
penampilan fisik tidak relevan. Namun, internet juga memungkinkan akses mudah
ke berbagai kecanduan potensial termasuk pornografi dan fantasi role –playing.
Internet juga menawarkan akses mudah ke korban untuk mereka yang terlibat dalam
perilaku predator.
Jika
seseorang memproyeksikan dirinya secara online berbeda dari kepribadiannya
secara offline maka dapat menyebabkan tekanan psikologis baik untuk dirinya
sendiri maupun orang lain.
SATU DIRI ATAU
BANYAK : EKSPLORASI REMAJA
Remaja
kadang – kadang mengeksplorasi identitas yang berbeda secara radikal sebagai
cara untuk menegaskan kemerdekaan mereka, rambut biru, cincin hidung merupakan
cara tubuh untuk menjadi unik. Budaya goth, skater, grunge dan stoner
memungkinkan anak – anak untuk mengeksplorasi diri yang berbeda. Ketika anak –
anak mencoba kepribadian yang berbeda dari dunia offline, mereka terbatas hanya
dengan beberapa pilihan yang realistis, beberapa ini adalah eksplorasi yang
sehat dari diri sementara yang lain dapat berbahaya.
Secara
online, peluang untuk mengeksplorasi identitas yang berbeda mungkin lebih
mudah. Valkenburg, dkk (2005), mensurvey 600 pelajar usia 18 tahun dalam
pengaturan ruang kelas, bertanya apakah mereka sudah menjelajahi identitas
online mereka menggunakan ruang chatting? Dan 50% mengindikasikan bahwa mereka
telah terlibat dalam percobaan identitas online. Motif yang paling penting
untuk percobaan tersebut adalah :
·
Eksplorasi diri ( menyelidiki bagaimana orang lain bereaksi )
·
Kompensasi sosial ( mengatasi rasa malu )
·
Sosial fasilitasi ( memfasilitasi pembentukan hubungan )
Identitas
dapat dilihat dari segi kesadaran diri sendiri yang mana perhatian kita
terfokus pada diri sendiri. Perspektif pada diri ini terkait erat dengan memori
dan cara berpikir. Jadi, jika kita terfokus pada diri kita, kita bisa
mendapatkan wawasan mengenai siapa kita. Tetapi suasana hati mempengaruhi fokus
diri tersebut, dalam suasana hati yang negatif kita lebih cenderung untuk
menghadiri informasi negatif tentang diri kita, begitu juga sebaliknya.
Penelitian
psikologis yang membandingkan identitas secara online vs offline menunjukkan
bahwa proses menciptakan identitas online dan offline itu serupa. Melakukan
penelitian psikologis secara online kini telah menjadi praktek yang meluas dan
diterima di masyarakat ilmiah dengan prosedur metodologis. Namun, ada juga
aspek dari dunia online yang menghasilkan pengalaman unik dalam diri kita.
EKSPANSI DIRI
ATAU DISINHIBITION ONLINE
Disinhibition
didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mengontrol perilaku impulsif,
pikiran atau perasaan dan memanifestasikan komunikasi dengan cara yang tidak
biasa dilakukan secara offline. Pola komunikasi ini bisa positif ( memungkinkan
hubungan yang lebih dalam ) dan negatif ( komentar marah atau kurangnya
kejujuran dalam pengungkapan ).
Niederhoffer
dan Pennebaker (2002) terkejut ketika wawancara setelah percobaan, ternyata
siswa yang baru saja terlibat secara online dalam diskusi tentang petualangan
seksual grafis adalah orang yang sopan dan pemalu. Dalam analisi rinci dari
efek disinhibition, Suler menyoroti 6 alasan mengapa orang memperpanjang
ekspresi emosional mereka dari diri saat online :
·
Dissociative anonymity
·
Invisibility
·
Asynchronicity
·
Solipsistic introjection
·
Dissociative imagination
·
Minimization of status and authority
KEPRIBADIAN
ONLINE
Dalam
Yuen dan Lavin’s (2004), penelitian baru menemukan bahwa siswa yang pemalu
cenderung menggunakan internet secara kompulsif yang mengarah pada kegagalan dalam
kelas dan akhirnya meninggalkan sekolah. Karena, siswa malu menyukai interaksi
online dan internet menyediakan tempat yang aman dimana perasaan tidak nyaman
sosial dapat dikurangi. Mereka lebih suka duduk di depan komputer mereka
daripada berpartisipasi dalam kegiatan sosial.
Anak
– anak dan remaja bukan satu – satunya orang yang rentan terhadap isu – isu
identitas online atau offline, orang dewasa yang telah mendapatkan rasa lebih
jelas pada dirinya juga bisa mengalami isu – isu tersebut karena perspektif
dari diri kita tidak tetap statis. Para peneliti telah mengidentifikasikan
beberapa konstruksi kepribadian utama yang relatif abadi bagi kebanyakan dari
kita diseluruh rentan hidup yang disebut big 5. Karakteristik kepribadian utama
adalah :
·
Introvert dan ekstrovert
·
Keramahan
·
Kesadaran
·
Kestabilan emosi
·
Keterbukaan untuk mencoba
(
Larsen & Buss, 2005 ). Namun ada juga karakteristik kepribadian lain yang
mungkin muncul sebagai akibat dari peristiwa kehidupan.
INTROVERT DAN
EKSTROVERT ONLINE
Studi
paling kontroversional pada diri sebagai fungsi kehidupan online dilakukan oleh
Kraut, dkk (1998). Dalam sebuah studi tindak lanjut, kelompok yang sama
diperiksa introvert dan ekstrovert gaya kepribadiannya. Kraut, dkk (2002),
menemukan efek positif untuk komunikasi, keterlibatan sosial, dan kesejahteraan
psikologis, tergantung pada tipe kepribadian, bahwa sejalan dengan kepribadian
mereka, ekstrovert meningkatkan kontak sosial mereka dengan menjadi online
sementara introvert menurunkan kontak sosial dengan menggunakan internet secara
ekstensif. Hal yang sama juga ditemukan dengan kesepian, ekstrovert menjadi
kurang kesepian sedangkan introvert menjadi kesepian dengan penggunaan
internet.
Penggunaan
internet sering disarankan sebagai cara untuk berlatih dalam pertukaran sosial
bagi individu pemalu, tapi penelitian tampaknya tidak mendukung usulan itu.
Engelberg dan Sjoberg (2004), menemukan bahwa penggunaan internet terkait
dengan kesepian dan kepatuhan terhadap nilai – nilai istimewa ( efek kuat ) dan
untuk keseimbangan antara kerja dan liburan juga emosional intelegensi ( efek
lemah ), tetapi mereka tidak menemukan hubungan dengan big 5 karakteristik
kepribadian.
JENIS
KEPRIBADIAN ONLINE YANG LAIN
Morgan
dan Cotton (2003), menemukan depressiveness yang diasosiasikan diciptakan
dengan menggunakan internet tetapi tergantung pada jenis penggunaan secara
khusus, mereka menemukan bahwa email, chatting, dan pesan instan berhubungan
dengan penurunan gejala – gejalan depresi, sedangkan saat berbelanja bermain
game, atau mencari informasi berhubungan dengan peningkatan gejala depresi.
Perbedaan mendasar antara set kegiatan adalah bahwa mengobrol melibatkan orang
lain sedangkan kegiatan yang soliter tampaknya meningkatkan isolasi. Morgan dan
Cottong (2003), juga menunjukkan bahwa keterbukaan emosional jelas di dalam
chat room karena kita merasa mampu mengekspresikan diri dan dipahami,
sebaliknya tidak ada respon seperti biasanya terjadi saat berbelanja karena itu
adalah kegiatan solo.
Dalam
sebuah studi yang menarik mengenai empati, peneliti berhipotesis dan menemukan
bahwa mereka yang tinggi di empati lebih mampu mengalami rasa realistis di
dunia maya. Empati adalah kemampuan untuk mengidentifikasi orang lain,
tampaknya pria membutuhkan keterlibatan yang lebih langsung untuk mengalami
rasa empati daripada wanita.
Berbagai
studi telah meneliti perilaku variabel kepribadian online. Satu studi ditangani
dengan penggunaan pribadi internet ditempat kerja ( Everton, dkk 2005 )
sementara yang lain diperiksa adalah penyalahgunaan internet oleh anak – anak (
Harman, dkk 2005 ). Everton, dkk (2005), menemukan bahwa “orang – orang yang
menggunakan komputer mereka dengan cara – cara yang tidak produktif cenderung
laki – laki, lebih muda, lebih impulsif, dan kurang teliti”. Mereka juga
mencatat bahwa pencari sensasi lebih cenderung menggunakan komputer atau
internet mereka untuk melihat materi seksual di tempat kerja. Kepribadian dan
penyalahgunaan internet oleh anak – anak adalah fokus dari Harman, dkk (2005),
yang secara khusus tertarik pada perilaku berpura – pura secara online. Anak –
anak antara usia 11 – 16 tahun yang lebih mungkin untuk melakukan ini. Fokus
kedua studi ini adalah masa pertumbuhan dan perubahan mengenai diri, hal yang
menarik dari penelitian ini adalah bahwa masalah yang ada bukan dikaitkan
dengan waktu penggunaan tetapi dengan apa yang mereka lakukan secara online.
Akhirnya,
peneliti akan mengubah pemeriksaan diri online kita untuk berbagai demografi
termasuk jenis kelamin dan usia yang mungkin menjadi cara lebih jelas untuk
menentukan bagaimana kepribadian dengan pengaruh diri dan dipengaruhi oleh
pengalaman internet.
DIRI SEBAGAI
DEMOGRAFI ONLINE
Psikolog
perkembangan telah menunjukkan kepada kita bahwa salah satu unsur yang paling
awal dalam pembangunan rasa diri kita adalah jenis kelamin. Selain itu yang
juga penting dalam mengembangkan diri adalah elemen dari: usia, ras, budaya,
dan status sosial ekonomi. Jadi, secara online unsur – unsur dari diri juga
menginformasikan pengalaman kita. Pada tahun 1998, Morahan – Martin mencatat :
ada kesenjangan jenis kelamin dalam penggunaan internet, dari sejak kecil laki
– laki lebih berpengalaman dengan komputer dan memiliki sikap yang lebih
menguntungkan terhadap komputer daripada perempuan. Budaya internet disusun
oleh pengguna awalnya, terutama para ilmuan laki – laki, matematikawan, dan
hacker komputer berteknologi canggih. Budaya ini bisa tidak menyenangkan dan
asing bagi perempuan.
Sebuah
penelitian dari Williamson in eMarketer (mai 2005), menujukkan bahwa pada tahun
2004 perempuan telah menjadi mayoritas pengguna internet AS (51,6%) dan tren
yang diperkirakan akan terus berlanjut. Perempuan telah menggunakan internet
untuk game online, konten kesehatan dan musik, juga semakin beralih pada
berbelanja secara online.
JENIS KELAMIN
DAN PENGGUNAAN INTERNET
Ono
dan Zavodny (2003), meninjau beberapa survey dari perbedaan gender dalam
penggunaan internet dari tahun 1997 – 2000. Mereka menemukan bahwa pada saat
melakukan trolling perbedaan sosial ekonomi perempuan secara signifikan lebih
mungkin dibandingkan pria untuk menggunakan internet dalam pertengahan 1990-an,
tapi kesenjangan gender ini secara online menghilang pada tahun 2000. Perbedaan
gender dalam jenis penggunaan telah dilaporkan oleh beberapa kelompok termasuk
kelompok Pew ( Rainie & Kohot, 2000 ). Mereka mencatat :
·
55% pengguna internet mengatakan pertukaran email mereka telah
meningkatkan hubungan mereka kepada anggota keluarga ( 60% perempuan
mengatakannya dan 51% laki – laki mengatakannya )
·
59% dari mereka yang melaporkan keluarganya menggunakan email secara
signifikan lebih sering berkomunikasi ( 61% perempuan mengatakannya dan 56%
laki – laki mengatakannya )
·
66% dari pengguna internet mengatakan email telah meningkatkan hubungan
mereka dengan teman secara signifikan ( 71% perempuan mengatakannya dan 61%
laki – laki mengatakannya )
·
60% dari mereka berkomunikasi lebih signifikan dengan temannya yang
memiliki email ( 63% perempuan mengatakannya dan 54% laki – laki mengatakannya
)
·
49% pengguna email mengatakan mereka akan kehilangan banyak email jika
mereka lama tidak menggunakannya ( 56% perempuan mengatakannya dan 43% laki –
laki mengatakannya )
JENIS KELAMIN
DAN PERMAINAN
Penelitian
telah menunjukkan bahwa bermain video game adalah prediktor kuat dalam
penggunaan komputer dan internet. Meunier (1996), menunjukkan bahwa laki – laki
cenderung lebih tertarik pada komputer dibandingan perempuan. Fenomena ini
berasal dari sosialisasi baik didalam maupun luar sekolah. Perempuan lebih
mungkin menggunakan komputer dan internet tetapi tidak untuk bermain video
game, itu karena mereka menganggap bermain game adalah hal yang membosankan,
berbeda dengan laki – laki yang menganggap bermain game adalah hal yang
menyenangkan dan bisa meningkatkan hubungan mereka dengan teman – temannya.
ORANG TUA
Segmen
populasi setidaknya diwakili kalangan orang tua dalam penggunaan internet.
Mereka mewakili 18% dari rumah tangga dengan akses internet. Menurut sensus AS
2000 (Newburger, 2001 ), pada tahun 2003 laporan UCLA ( Cole, dkk 2003 ),
mengatakan bahwa 65+ kelompok memiliki 34% pengguna, ini menjelaskan bahwa
penggunaan internet dikalangan orang tua berkembang.
STATUS SOSIAL
EKONOMI DAN BUDAYA
Psikolog
menunjukkan bahwa budaya dunia dapat dikonseptualisasikan sepanjang dimensi
kolektivitas vs individualisme ( Larsen & Buss, 2005 ). Beberapa menekankan
hak individu sementara yang lain menekankan tanggung jawab, kelompok barat,
industri, dan budaya yang tersambung ke internet pada umumnya cenderung kaya
dan individualistik sementara budaya asia, timur tengah, amerika selatan dan
afrika yang memiliki presentasi yang jauh lebih rendah dari koneksi internet
cenderung kolektivis.
ETNIS
Etnis
dalam pengguna online juga berubah, sebagai hasil dari NUA survey internet berikut
(2001) menunjukkan :
·
Jumlah pengguna internet di rumah di US meningkat sebesar 33% pada tahun
2000, dengan Afrika Amerika memimpin pertumbuhan online
·
Menurut angka dari Nielsen / NetRatings (2004), populasi online Afrika
Amerika meningkat sebesar 44% menjadi 8,1 juta antara Desember 1999 dan
Desember 2000
·
Penggunaan internet dikalangan hispanik tumbuh sebesar 19% menjadi lebih
dari 4,7 juta orang. Sedangkan, jumlah pengguna internet dari Asia Amerika
mencapai 2,1 juta meningkat 18%
·
Kaukasia tetap merupakan kelompok etnis terbesar dalam penggunaan
internet di rumah di Amerika sebanyak 87,5 juta pengguna
·
NetRatings, yang menyebabkan pertumbuhan penggunaan internet diseluruh
kelompok etnis adalah biaya penurunan PC dan akses internet yang lebih murah (www.NUA.ie)
Internet
tetap menjadi gaya hidup yang relatif istimewa dalam hubungannya dengan etnis,
kelas, dan jenis kelamin terkait dengan penggunaan internet di masyarakat. 85%
dari sekolah – sekolah AS yang di survey untuk studi ini memiliki komputer
multimedia dan 64% memiliki akses internet. Sedangkan, sekolah miskin dan
minoritas memiliki akses yang kurang. Dalam laporan yang lebih baru oleh
kelompok Pew ( Spooner&Rainie, 2004 ), perbedaan ras antara kulit putih dan
kulit hitam di AS diperiksa, ternyata hasil yang didapat adalah serupa dengan
penelitian sebelumnya bahwa, kulit hitam hanya menggunakan (36%) dan kulit
putih (50%) dalam menggunakan internet.
PERAN SOSIAL
DAN KETIMPANGAN ONLINE
Sebelum
abad ke 90-an masih banyak orang Eropa yang buta huruf, sampai akhirnya mucul
pendidikan dasar wajib yang menyatakan bahwa kemampuan membaca menjadi nilai
psikologis, sosial, dan ekonomi barulah banyak orak Eropa yang mengenal
tulisan. Sampai akhirnya mengerti komputer adalah pendukung keberhasilan
individu dalam masyarakat barat.
Banyak
bentuk teknologi komunikasi telah dikaitkan dengan organisasi sosial politik
tertentu. Dalam sejarah teknologi komunikasi barat, alfabet dan mesin cetak
telah dipuji sebagai pertanda demokrasi dan kebebasan berbicara. Namun ada
sebuah paradox yang menyatakan bahwa tanah virtual kebebasan berbicara dan
kebebasan pribadi yang membatasi akses internet adalah teknologi rasial,
seksual, dan kode ekonomis yang dapat menakutkan bagi banyak anggota masyarakat
pada umumnya. Akses ke teknologi ini membutuhkan investasi psychoemotional
berat yang beberapa orang mungkin tidak mampu membayarnya.

0 komentar:
Posting Komentar